Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Pulangmu

Serpihan Kisah Terimakasih atas kedatangan tuan Pada semburat ufuk timur pagi ini Kopiku tak lagi dingin tanpa tersentuh Mejaku tak lagi kosong tanpa penghuni Hidangan tak lagi kunikmati seorang diri Dan bilik disisi tak lagi sepi tanpa penghuni Harapku pada pulangmu menetap bukan sekedar menatap mengisi hari tanpa harus menyakiti membimbing tanpa perlu mendoktrin Menasihati tanpa kesan menggurui Jika engkau langit yg Tuhan ciptakan Biarkan aku menjadi gemintang Pelengkapnya Jika engkau hujan yg membasahi bumi Biarkan aku menjadi pelangi yang mengiringi Dan jika engkau cahaya rembulan malam Biarkan aku menikmati  indah cahayanya

Cerita Pagi

Serpihan Kisah Teh pagi ini tak kau seduh lagi tuan Kursi beranda tetap kosong Tirai jendela melambai tertiup angin Burung gereja pun diam membisu Aku terlatih berdamai dengan rindu Aku terbiasa melipat jarak dengan doa-doa Aku juga lihai mengobati kecewa Satu kelemahanku Aku tak pandai menyembunyikan cemburu Jika kabarmu bak belati mengiris hati Maka tak mendengar adalah obat hati Jika tatapmu adalah cambukan duri-duri Maka menghindar adalah perisai diri Dan Jika hadirmu adalah candu Maka tak bertemu adalah penawar kalbu

Menjelma Yakin

Serpihan Kisah Baiklah Ragu menjelma yakin Abu-abu menjelma putih Layu kan terganti Luka kan terobati Saatnya melanjutkan kembara Terimakasih Pernah menjadi tenang dalam gundah Menjadi lentera kala petang Menjelma tirta kala dahaga Dan mencipta suka kala duka Layar telah terbentang Nahkoda sigap pada kemudi Jangkar perlahan terangkat Petualang kini menemui tenggat

Serpihan Kisah

Serpihan Kisah Kita, Dua tokoh dalam cerita berbeda Dua puisi pada halaman tak sama Dua buku pada rak bersilangan Atau mungkin satu tema pada jilid berbeda Sekuat apapun menyelaraskan Sang author tetap pemegang kuasa Serapih apapun menyerasikan Penerbit naskah lebih berkuasa Tak apa Kisah kita tak seperti sebuah buku Kita tak menyusun cerita berdasar bab Pun tak memulainya berdasar judul Kita serpihan-serpihan kisah yang berujung kenang

Cita, Jarak, dan Perjalanan

Serpihan Kisah Kelak, Tak hanya kelip neon yang kita pandang Tak hanya pekat angkasa yang terbentang Atau indah gemintang yang gemilang Di suatu pagi yang cerah Terik mentari kan menghias hari Biru cakrawala membentang megah Balok konstruksi andil berbaris rapi Di sore yang kita impikan Semburat oranye turut mengiringi Bersama cita yang kita aminkan Jua agam harap yang teruntai Cita kita Pada jarak yang terbentang Harap kita Pada perjalanan terakhir Angan kita Pada doa yang berakhir pasrah

Tanpa Pinta

Serpihan Kisah Di tepi pantai yang sama Kita pernah menghapus lara Berendam di bawah terik sang surya Berlari kecil menghindari ombak Membangun replika yang kelak kan kita wujudkan bersama Bersamamu, Kupandang laut seluas harap Menyusuri bibir pantai nan indah Menggenggam tanpa rasa cemas Lalu, menelisik buih memandang takjub ciptaanNya Senyum dan tawa menyungging jenaka Raut wajah isyaratkan bahagia Itu kita Yang harus mengalah pada cita Yang harus rela tanpa juang Dan harus menyerah pada kenang Kini, Di kota yang pernah kita pijak Kulanjutkan kembara Walau tanpa pinta

Bersembunyi

Serpihan Kisah Mengapa bersembunyi? Langit terlampau mendung Mentari terlampau redup Dan hulu terlampau surut Suatu saat kau akan mengerti Arti janji tanpa aksi Arti pergi tanpa permisi Dan arti letih tanpa berlari Bersembunyi hanya akan menyesakkan Diam hanya akan menyakitkan Berbicara hanya akan melelahkan Benar tanpa ada pembelaan Salah tanpa mau disalahkan Pada penghujung baris Hanya akan ada tangis Dan dilematis makhluk monopluralis Yogyakarta~yang pernah istimewa

Nyata dan Asa

Serpihan Kisah Salam rindu untuk bumi yang pernah kita pijak Bumi yang pernah menjadi impian Bumi yang nahasnya kini hanya tinggal kenang Salam hormat untuk keluarga yang pernah menyambut hangat Keluarga yang senantiasa tersemat dalam ratap Keluarga yang hadirnya terpaut dalam setiap harap Walau tatap tak lagi bermakna tetap Senyum tak lagi dalam semburat Dan tawa tak lagi ungkapkan nada Namun benci tak sedetikpun terlintas dalam jiwa Tak apa tawamu kini bersamanya Setidaknya tawa kita pernah menghapus lara Tak apa jika milik kini berakhir pelik Setidaknya hangat peluk pernah menghapus perih Tak apa mimpi lalu kau rangkai dengannya Setidaknya cita pernah tergenggam nyata Tulus senyum Indah tawa Jenaka kisah Kadang memang fatamorgana Selamat menuai kisah pada empat setelah tiga Semoga nyata tak lagi berakhir asa.

Sampai Nanti

Serpihan Kisah Silahkan Bahkan aku pun tak berhak Pernah ditempat yang sama Dengan ego yang sama Semesta masih berpihak nona Hanya tentang waktu Perihal kasta,  kita setara Nahasnya dengannya tidak Namun jika terjadi Langkah pun sudah kuhentakkan Untuk yang sudah,  terima kasih Selanjutnya,  mari akhiri Ada sabar, Ada tabah Ada sepi, Ada tepi Satu dari hati Sampai nanti Tak kan lagi kunanti

Repetisi Skenario

Serpihan Kisah Bukankah pada awalnya bukan apa-apa Lalu saling mencoba menyelaraskan Hingga nyaman hinggap dalam kehampaan Bukankah pada awalnya memang berbeda Lalu saling mencari kesamaan Hingga alam menuntunnya lestari Bukankah dulu hanya ada kenal Lalu dekat mencari celah Dan disitulah kita bermula Yah repetisi skenario dengan pendatang baru Jika manusia hanya mencari nyaman Raga hanya akan singgah Jika manusia hanya mencari aman Selamanya hanya akan sia sia Hati terpatahkan Jiwa terabaikan Harap diambang sirna Dan Korban kian berjatuhan Kali kesekian Dan entah sampai kapan kan terhenti Selamat pekan ke dua bulan tiga

Selamat Memulai Tetralogi

Serpihan Kisah Diam dan membisu Tak apa tuan Suatu saat semesta kan menilai Alam punya tolok ukur Manusia punya sudut pandang Kita tak sepenuhnya salah Hanya perihal korban ego yang menyelimuti Harapan tumbuh karena janji yang diucapkan Doa terapal karena pinta yang yang pernah ada Walau salah satu memutuskan berhenti Nyatanya kita memang harus bergerak, Berjalan, Lalu berlari mengejar mimpi Terimakasih pernah bersama Walau kini tak lagi seirama Selamat memulai tetralogi, tuan. 

Tangan yang Sama

Serpihan Kisah Tangan yang sama Pernah menggenggam erat sembari menahan kemudi pernah menghapus air mata sembari mengusap pelan pucuk kepala Pernah mendekap ketika gamang terpacu dalam pikiran Dan bahkan menahan ketika pergi menjadi pilihan Mata yang sama Mengisayaratkan senyum kala bahagia menyertai Menunduk sendu kala sedih menyelimuti Dan memandang haru kala senang mengiringi Malam tadi,  dengannya yang bukan aku Rajutan kisah menjadi tetralogi Walau tak lagi dengan isyarat awam Terimakasih pernah menggenggam Walau sadar fitrah manusia mengganti,  berganti,  dan tergantikan.

Sampai Kapan?

Serpihan Kisah "Sampai kapan?" Kata yang selalu terngiang dalam setiap helaan nafas Tanya yang tak jua kutemukan jawab Jika semudah menerbangkan helai kapas,  niscaya telah lama kulakukan Jika seringan helaian kertas Niscaya telah lama kusisihkan Namun sirna tak seelok senja Kenang masih membayang jiwa Dan Raga masih terpaut kasih Tegas Suara, Kuat genggaman, Siluet garis wajah, Bahkan Gemuruh Derap langkah Terekam jelas dalam memori Jika langkah kaki kian jauh Arah tujuan kian berlawanan Lantas, dengan apa harus kulerai asa?

Kujumpa Hadirmu

Serpihan Kisah Teruntuk Seorang yang selalu bertanya “Kapan Seminar?” Jika masih bisa, akan kutanyakan bagaimana kabarmu. Namun kata-kataku hanya bisa mengaung di angan-angan. Jika masih bisa kusapa Akan kukatakan, kau sangat bersahaja. Namun kata-kataku hanya bisa kusimpan rapi dalam ingatan. Tak ada jarak terjauh selain perbedaan dimensi Tak ada rindu tak terobati selain temu yang tak lagi pasti Jika masih bisa kutatap. Akan kusampaikan serumpun rindu yang telah lama terpahat. Jika tanya hanya sekedar angan Sapa hanya sebatas kenang Dan tatap hanya berujung harap Lantas dengan apa kujumpa hadirmu kembali?

Hati Tanpa Kasih

Serpihan Kisah Berapa hati yang melenggang sia sia hanya demi satu nama Berapa jiwa yang harus mati demi satu kisah Berapa tangis yang harus pecah demi kata kita Silahkan, sampai kau tak mengenaliku lagi Untuknya yang kini kau sanding Selamat Tapi nona,  bukankah kau juga perempuan? Kata seorang pujangga Manusia bisa melihat tanpa mata Bisa mendengar tanpa telinga Bisa menggenggam tanpa jemari Tapi selama masih manusia Ia tak bisa mencintai, juga tak punya rasa empati Jika tanpa hati Selamat merayakan hati tanpa kasih Maret' 20