Nyata dan Asa
Serpihan Kisah
Salam rindu untuk bumi yang pernah kita pijak
Bumi yang pernah menjadi impian
Bumi yang nahasnya kini hanya tinggal kenang
Salam hormat untuk keluarga yang pernah menyambut hangat
Keluarga yang senantiasa tersemat dalam ratap
Keluarga yang hadirnya terpaut dalam setiap harap
Walau tatap tak lagi bermakna tetap
Senyum tak lagi dalam semburat
Dan tawa tak lagi ungkapkan nada
Namun benci tak sedetikpun terlintas dalam jiwa
Tak apa tawamu kini bersamanya
Setidaknya tawa kita pernah menghapus lara
Tak apa jika milik kini berakhir pelik
Setidaknya hangat peluk pernah menghapus perih
Tak apa mimpi lalu kau rangkai dengannya
Setidaknya cita pernah tergenggam nyata
Tulus senyum
Indah tawa
Jenaka kisah
Kadang memang fatamorgana
Selamat menuai kisah pada empat setelah tiga
Semoga nyata tak lagi berakhir asa.
Salam rindu untuk bumi yang pernah kita pijak
Bumi yang pernah menjadi impian
Bumi yang nahasnya kini hanya tinggal kenang
Salam hormat untuk keluarga yang pernah menyambut hangat
Keluarga yang senantiasa tersemat dalam ratap
Keluarga yang hadirnya terpaut dalam setiap harap
Walau tatap tak lagi bermakna tetap
Senyum tak lagi dalam semburat
Dan tawa tak lagi ungkapkan nada
Namun benci tak sedetikpun terlintas dalam jiwa
Tak apa tawamu kini bersamanya
Setidaknya tawa kita pernah menghapus lara
Tak apa jika milik kini berakhir pelik
Setidaknya hangat peluk pernah menghapus perih
Tak apa mimpi lalu kau rangkai dengannya
Setidaknya cita pernah tergenggam nyata
Tulus senyum
Indah tawa
Jenaka kisah
Kadang memang fatamorgana
Selamat menuai kisah pada empat setelah tiga
Semoga nyata tak lagi berakhir asa.
Komentar
Posting Komentar