Cerita

Serpihan Kisah

Satu tahun lalu, jika saja tak mengulang cerita, 
mungkin saat ini kita punya kisah berbeda.
Kau yang hidup dalam ketikpekaanku, 
dan aku yang terlampau abai dengan isyaratmu.
Yah, terkadang memang harus menghapus satu cerita agar cerita yang lain bisa tetap hidup.
Terimakasih pernah bersedia kuhapus walau ternyata pilihanku salah.
Terimakasih masih tetap disisi walau tujuan kita tak lagi sama.


Di suatu sudut kedai kopi, di kota istimewa.
Kau masih orang yang sama, 
yang menghiburku dengan segala humor sederhanamu, 
yang terkadang berhasil membuatku tersenyum sumringah.
Kau bukan titisan para dewa, juga bukan habibi millenial.
Tapi kau aliran air di tengah gersang padang pasir.
Kau nyala lilin di tengah gelap gulita.
Kau juga irama ditengah sepi yang menghias hari.

Jika suatu saat nanti kita harus berjalan berlawanan, 

harapku, lintas yang kita lalui bermuara pada satu tujuan.

Komentar