Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Doa yang Sama

Serpihan Kisah Aku Masih dengan doa yang sama yang pernah kita rangkai bersama Bukankah itu pintamu tuan? Hingga nanti, katamu Abjad yang kueja masih sama Harap yang kumohon masih engkau Dan amin paling serius masih terpatri dalam sanubari Lantas, mengapa kisah baru kau cipta Dan bukan doa kita yang kau eja Tak ada janji berarti selain doa terikhlas dari lubuk hati Jika doa kita kini menjadi doaku Harap kita menjadi harapku Dan amin kita hanya menjadi aminku Tak apa,  Ku percaya di suatu kelak aku akan menjadi kamu saat ini Bukankah hukum alam itu nyata  Roda berputar  Bumi berevolusi Dan suka duka itu pasti Selamat Penghujung Februari Yogyakarta 02/20

S y u k u r

Serpihan Kisah Yang kau keluhkan hari ini, bisa saja yang orang lain inginkan di luar sana Lelahmu kali ini akan menjadi momen yang kelak mungkin kau rindukan Sapaan ramah satpam depan sekolah dengan panggilan khasnya Senyum tulus cleaning servis dengan laporan yang kadang menjadi ujian kesabaran Masakan khas pesantren dan sapa tulus koki asrama Riuh suara anak pulang sekolah dengan canda dan rekah tawa Lagu dan petikan gitar dikala senja Rimbun daun pohon jati yang menyejukkan Rintik hujan beradu dengan daun kering belakang asrama Atau aliran deras air sungai selepas hujan Indah bukan? Kau hanya perlu menikmatinya Lakukan dengan ikhlas Biarkan alam memainkan perannya

B e r u b a h

Serpihan Kisah "Apa kau melihat perubahan?", katanya sembari berlari kecil menghampiri. "Perubahan?", ulangku tak mengerti. "Ya, dia berbeda, tak seperti yang kukenal", katanya memperjelas. "Bukan dia yang berubah, kau yang tak terlalu dalam mengenalnya" ucapku padanya. "Oh ya?" "Mungkin." "Kau lebih lama mengenal." ucapku lagi. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang tak dapat kita terka tentang perubahan Ada kalanya kau tak terlalu dalam mengenalnya, sehingga kau terkejut melihat sisi lain dirinya    Ada kalanya tekanan yang menghampiri menutupi sifatnya, sehingga kau memang melihatan perubahan sifatnya Ada kalanya dia sedang berpura-pura agar kau tak lagi mengenalnya Dan banyak kemungkinan lainnya Sudahlah, tak perlu risau Fokuslah memeluk diri sendiri Dirimu butuh istirahat *Selamat memeluk diri sendiri, dik.   Untukmu yang membutuhkan tulisan ini.

T a n y a

Serpihan Kisah "Mengapa tak suka?", ucap perempuan di hadapannya yang selalu berakhir hening. Sebelumnya, tak pernah ada perbincangan serius tentang ini Keputusan sepenuhnya berada di tangan sang empunya Bahkan saat menemukan, tak pernah ada larangan terlontar Namun semenjak kegagalan kala itu, Topik ini bak primadona yang seringkali menyudutkan Tak hanya perempuan di hadapannya, hampir seluruh ikut campur Jika ada keberanian, lelah yang kan terlontar Bukan tak ingin atau tak suka Hanya melihat pantulan cermin diri sendiri Golongan bawah tak kan pernah naik kasta Hukum alam nona Tak ingin memberi harap yang berujung luka Tak apa gagal, tapi tidak selanjutnya Tak apa kalah, asal ganti strategi Tak apa kecewa, tapi tidak mengulang tidaknya tidak mengulang, walau dengan tokoh berbeda Biarlah waktu memainkan perannya

Cerita

Serpihan Kisah Satu tahun lalu, jika saja tak mengulang cerita,  mungkin saat ini kita punya kisah berbeda. Kau yang hidup dalam ketikpekaanku,  dan aku yang terlampau abai dengan isyaratmu. Yah, terkadang memang harus menghapus satu cerita agar cerita yang lain bisa tetap hidup. Terimakasih pernah bersedia kuhapus walau ternyata pilihanku salah. Terimakasih masih tetap disisi walau tujuan kita tak lagi sama. Di suatu sudut kedai kopi, di kota istimewa. Kau masih orang yang sama,  yang menghiburku dengan segala humor sederhanamu,  yang terkadang berhasil membuatku tersenyum sumringah. Kau bukan titisan para dewa, juga bukan habibi millenial. Tapi kau aliran air di tengah gersang padang pasir. Kau nyala lilin di tengah gelap gulita. Kau juga irama ditengah sepi yang menghias hari. Jika suatu saat nanti kita harus berjalan berlawanan,  harapku, lintas yang kita lalui bermuara p...